natural_love

Kemuliaan wanita shalihah digambarkan Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah“. (HR. Muslim).

———-
Oleh: Abdullah Gymnastiar

MQ Media Online – Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri.

Mulialah wanita shalihah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan. Jika ia wafat, Allah akan menjadikannya bidadari di surga. Kemuliaan wanita shalihah digambarkan Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim).


muslimahmokuliah
Dalam Al-Quran surat An-Nur: 30-31, Allah Swt. memberikan gambaran wanita shalihah sebagai wanita yang senantiasa mampu menjaga pandangannya. Ia selalu taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make up- nya adalah basuhan air wudhu. Lipstiknya adalah dzikir kepada Allah. Celak matanya adalah memperbanyak bacaan Al-Quran.

Wanita shalihah sangat memperhatikan kualitas kata-katanya. Tidak ada dalam sejarahnya seorang wanita shalihah centil, suka jingkrak-jingkrak, dan menjerit-jerit saat mendapatkan kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian intan yang penuh makna dan bermutu tinggi. Dia sadar betul bahwa kemuliaannya bersumber dari kemampuannya menjaga diri (iffah).

Wanita shalihah itu murah senyum. Baginya, senyum adalah shadaqah. Namun, senyumnya tetap proporsional. Tidak setiap laki-laki yang dijumpainya diberikan senyuman manis. Senyumnya adalah senyum ibadah yang ikhlas dan tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain.

Wanita shalihah juga pintar dalam bergaul. Dengan pergaulan itu, ilmunya akan terus bertambah. Ia akan selalu mengambil hikmah dari orang-orang yang ia temui. Kedekatannya kepada Allah semakin baik dan akan berbuah kebaikan bagi dirinya maupun orang lain.

Ia juga selalu menjaga akhlaknya. Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah kemampuannya memelihara rasa malu. Dengan adanya rasa malu, segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Ia tidak akan berbuat sesuatu yang menyimpang dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah. Ia sadar bahwa semakin kurang iman seseorang, makin kurang rasa malunya. Semakin kurang rasa malunya, makin buruk kualitas akhlaknya.

Pada prinsipnya, wanita shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rambu-rambu kemuliaannya bukan dari aneka aksesoris yang ia gunakan. Justru ia selalu menjaga kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain. Kecantikan satu saat bisa jadi anugerah yang bernilai. Tapi jika tidak hati-hati, kecantikan bisa jadi sumber masalah yang akan menyulitkan pemiliknya sendiri.

Saat mendapat keterbatasan fisik pada dirinya, wanita shalihah tidak akan pernah merasa kecewa dan sakit hati. Ia yakin bahwa kekecewaan adalah bagian dari sikap kufur nikmat. Dia tidak akan merasa minder dengan keterbatasannya. Pribadinya begitu indah sehingga make up apa pun yang dipakainya akan memancarkan cahaya kemuliaan. Bahkan, kalaupun ia “polos” tanpa make up sedikit pun, kecantikan jiwanya akan tetap terpancar dan menyejukkan hati orang-orang di sekitarnya.

Jika ingin menjadi wanita shalihah, maka belajarlah dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang kita temui. Ambil ilmunya dari mereka. Bahkan kita bisa mencontoh istri-istri Rasulullah Saw. seperti Aisyah. Ia terkenal dengan kekuatan pikirannya. Seorang istri seperti beliau bisa dijadikan gudang ilmu bagi suami dan anak-anak.

Contoh pula Siti Khadijah, figur istri shalihah penentram batin, pendukung setia, dan penguat semangat suami dalam berjuang di jalan Allah Swt. Beliau berkorban harta, kedudukan, dan dirinya demi membela perjuangan Rasulullah. Begitu kuatnya kesan keshalihahan Khadijah, hingga nama beliau banyak disebut-sebut oleh Rasulullah walau Khadijah sendiri sudah meninggal. Bisa jadi wanita shalihah muncul dari sebab keturunan. Seorang pelajar yang baik akhlak dan tutur katanya, bisa jadi gambaran seorang ibu yang mendidiknya menjadi manusia berakhlak. Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah ujug-ujug muncul tanpa didahului sebuah proses. Di sini, faktor keturunan memainkan peran. Begitu pun dengan pola pendidikan, lingkungan, keteladanan, dan lain-lain. Apa yang tampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu yang tersembunyi.

Banyak wanita bisa sukses. Namun tidak semua bisa shalihah. Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri. Tidak akan rugi jika seorang remaja putri menjaga sikapnya saat mereka berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Bertemanlah dengan orang-orang yang akan menambah kualitas ilmu, amal, dan ibadah kita. Ada sebuah ungkapan mengatakan, “Jika kita ingin mengenal pribadi seseorang maka lihatlah teman-teman di sekelilingnya.”

Peran wanita shalihah sangat besar dalam keluarga, bahkan negara. Kita pernah mendengar bahwa di belakang seorang pemimpin yang sukses ada seorang wanita yang sangat hebat. Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki di dunia ini, maka berapa banyak kesuksesan yang akan diraih. Selama ini, wanita hanya ditempatkan sebagai pelengkap saja, yaitu hanya mendukung dari belakang, tanpa peran tertentu yang serius. Wanita adalah tiang Negara. Bayangkanlah, jika tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah pasti bangunannya akan roboh dan rata dengan tanah. Tidak akan ada lagi yang tersisa kecuali puing-puing yang nilainya tidak seberapa. Kita tinggal memilih, apakah akan menjadi tiang yang kuat atau tiang yang rapuh? Jika ingin menjadi tiang yang kuat, kaum wanita harus terus berusaha menjadi wanita shalihah dengan mencontoh pribadi istri-istri Rasulullah.

Dengan terus berusaha menjaga kehormatan diri dan keluarga serta memelihara farji-nya, maka pesona wanita shalihah akan melekat pada diri kaum wanita kita.
natural_love


Pendahuluan:

Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, pasal 50 penjelasan menyatakan bahwa : Yang dimaksud dengan�? standar profesi �?adalah batasan kemampuan ( knowledge, skill and professional attitude ) minimal yang harus dikuasai oleh seorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi.

Dalam melaksanakan profesinya, Bidan memiliki 9 (sembilan) kompetensi yaitu :

1. Bidan mempunyai persyaratan pengetahuan dan keterampilan dari ilmu-ilmu sosial, kesehatan masyarakat dan etik yang membentuk dasar dari asuhan yang bermutu tinggi sesuai dengan budaya, untuk wanita, bayi baru lahir dan keluarganya.
2. Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, pendidikan kesehatan yang tanggap terhadap budaya dan pelayanan menyeluruh dimasyarakat dalam rangka untuk meningkatkan kehidupan keluarga yang sehat, perencanaan kehamilan dan kesiapan menjadi orang tua.
3. Bidan memberi asuhan antenatal bermutu tinggi untuk mengoptimalkan kesehatan selama kehamilan yang meliputi: deteksi dini, pengobatan atau rujukan dari komplikasi tertentu.
4. Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, tanggap terhadap kebudayaan setempat selama persalinan, memimpin selama persalinan yang bersih dan aman, menangani situasi kegawatdaruratan tertentu untuk mengoptimalkan kesehatan wanita dan bayinya yang baru lahir.
5. Bidan memberikan asuhan pada ibu nifas dan mneyusui yang bermutu tinggi dan tanggap terhadap budaya setempat.
6. Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komperhensif pada bayi baru lahir sehat sampai dengan 1 bulan.
7. Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komperhensif pada bayi dan balita sehat (1 bulan – 5 tahun).
8. Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi dan komperhensif pada keluarga, kelompok dan masyarakat sesuai dengan budaya setempat.
9. Melaksanakan asuhan kebidanan pada wanita/ibu dengan gangguan sistem reproduksi.


Setiap Kompetensi dilengkapi dengan Pengetahuan dan keterampilan dasar, pengetahuan dan keterampilan tambahan, yang wajib dimiliki dan dilaksanakan dalam melakukan kegiatan asuhan kebidanan.






Setiap Bidan harus bekerja Secara profesional dalam melaksanakan profesi asuhan kebidanan , dan dalam melaksanakan profesi tersebut Bidan harus bekerja sesuai standar yang meliputi meliputi :
standar pendidikan, standar falsafah, standar organisasi, standar sumber daya pendidikan, standar pola pendidikan kebidanan, standar kurikulum, standar tujuan pendidikan, standar evaluasi pendidikan, standar lulusan, standar Pendidikan Berkelanjutan Bidan, standar organisasi, standar falsafah, standar sumber daya pendidikan, standar program pendidikan dan pelatihan, standar fasilitas, standar dokumen penyelenggaraan pendidikan berkelanjutan, standar pengendalian mutu
Standar Pelayanan Kebidanan, standar falsafah, Standar Administrasi Dan Pengelolaan, Standar Staf Dan Pimpinan, Standar Fasilitas Dan Peralatan, Standar Kebijakan Dan Prosedur, Standar Pengembangan Staf Dan Program Pendidikan, Standar Asuhan, Standar Evaluasi Dan Pengendalian Mutu, standar praktik kebidanan, Standar metode asuhan, Standar pengkajian, Standar Diagnosa kebidanan, standar rencana asuhan, standar tindakan, standar partisipasi klien, standar pengawasan, standar evaluasi, standar dokumentasi,

KODE ETIK BIDAN INDONESIA

Kode etik merupakan suatu ciri profesi yang bersumber dari nilai-nilai internal dan eksternal suatu disiplin ilmu dan merupakan pernyataan komprehensif
suatu profesi yang memberikan tuntunan bagi anggota dalam me laksanakan pengabdian profesi.
Kode Etik Bidan Indonesia, meliputi :
Kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat
 Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah jabatannya dalam melaksanakan tugas pengabdiannya.
 Setiap bidan dalam menjalankan tugas profesinya menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan yang utuh dan memelihara citra bidan.
 Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa berpedoman pada peran, tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat.
 Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya mendahulukan kepentingan klien, menghormati hak klien dan nilai-nilai yang dianut oleh klien.
 Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa mendahulukan kepentingan klien, keluaraga dan masyarakat dengan identitas yang sama sesuai dengan kebutuhan berdasarkan kemampuan yang dimilikinya.
 Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi dalam hubungan pelaksanaan tugasnya dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk meningkatkan derajart kesehatannya secara optimal.


Kewajiban bidan terhadap tugasnya
 Setiap bidan senantiasa memberikan pelayanan paripurna kepada klien, keluarga dan masyarakat sesuai dengan kemampuan profesi yang dimilikinya berdasarkan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat
 Setiap bidan berkewajiaban memberikan pertolongan sesuai dengan kewenangan dalam mengambil keputusan termasuk mengadakan konsultasi dan/atau rujukan
 Setiap bidan harus menjamin kerahasiaan keterangan yang didapat dan/atau dipercayakan kepadanya, kecuali bila diminta oleh pengadilan atau diperlukan sehubungan dengan kepentingan klien
Kewajiban bidan terhadap sejawat dan tenaga kesehatan lainnya
 Setiap bidan harus menjalin hubungan dengan teman sejawatnya untuk menciptakan suasana kerja yang serasi.
 Setiap bidan dalam melaksanakan tugasnya harus saling menghormati baik terhadap sejawatnya maupun tenaga kesehatan lainnya.

Kewajiban bidan terhadap profesinya
 Setiap bidan wajib menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra profesi dengan menampilkan kepribadian yang bermartabat dan memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat
 Setiap bidan wajib senantiasa mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan profesinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
 Setiap bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan penelitian dan kegiatan sejenisnya yang dapat meningkatkan mutu dan citra profesinya.
Kewajiban bidan terhadap diri sendiri
 Setiap bidan wajib memelihara kesehatannya agar dapat melaksanakan tugas profesinya dengan baik
 Setiap bidan wajib meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
 Setiap bidan wajib memelihara kepribadian dan penampilan diri.
Kewajiban bidan terhadap pemerintah, nusa, bangsa dan tanah air
 Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya, senantiasa melaksanakan ketentuan-ketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan, khususnya dalam pelayananan Kesehatan Reproduksi, Keluarga Berencana dan Kesehatan Keluarga.
 Setiap bidan melalui profesinya berpartisipasi dan menyumbangkan pemikiran kepada pemerintah untuk meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan terutama pelayanan KIA/KB dan kesehatan keluarga



PENUTUP
Bidan merupakan suatu profesi kesehatan yang bekerja untuk pelayanan masyarakat dan berfokus pada Kesehatan Reproduksi Perempuan, Keluarga Berencana, kesehatan bayi dan anak balita, serta Pelayanan Kesehatan Masyarakat.
Standar Profesi ini terdiri dari Standar Kompetensi Bidan Indonesia, Standar Pendidikan, Standar Pelayanan Kebidanan, dan Kode Etik Profesi.
Standar profesi ini, wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh setiap bidan dalam mengamalkan amanat profesi kebidanan.



Daftar Pustaka
1. UU no 23 tahun 1992 tentang kesehatan
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
3. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional
4. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom
6. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 900/MENKES/SK/VII/2002 tentang Registrasi Dan Praktik Bidan;
8. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1457/MENKES/SK/X/2003 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota;
9. keputusan Menteri Kesehatan Nomor 369/Menkes/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Bidan
10. International Confederation Of Midwives (ICM) yang dianut dan diadopsi oleh seluruh organisasi bidan di seluruh dunia, dan diakui oleh WHO dan Federation of International Gynecologist Obstetrition (FIGO).
natural_love


















natural_love



Menunjukkan perasaan cinta saat ini identik dengan Candle light dinner, memberi mawar merah, menawarkan jaket pada pasangan saat kedinginan,berpegangan tangan,berpelukan seraya melihat sunset ditepi pantai dan lain-lain.Ketika seseorang dikatakan jatuh cinta maka follow up-nya adalah dengan pacaran dan upaya untuk menunjukkan rasa cintapun dimanifestasikan dengan kegiatan yang berbau romantis.

Tentu mengartikan cinta hanya sebatas perasaan sayang kepada lawan jenis adalah keliru dan penyempitan makna dari cinta itu sendiri. Bukankah kata CINTA dan SAYANG tidak hanya kita dengar dari lawan jenis ?Pernahkah kita menghitung seberapa banyak orang tua kita pernah mengucapkan kata sayang kepada kita anaknya yang mungkin diucapkan sejak anaknya lahir betapapun mungkin anaknya telah menyusahkan dan menyakiti hati mereka ?Bukankah kita sering menerima tatapan cinta dari ibu yang rela begadang ketika kita (anaknya) sakit. Dari ayah yang rela mengerahkan tenaganya untuk dapat menafkahi keluarganya. Dari teman yang senantiasa memberikan support, dari saudara kita yang mau berbagi suka dan duka ….
Belum lagi sentuhan kasih juga kita rasakan dari makhluk Allah yang lain, matahari yang tidak pernah mengingkari janjinya untuk bertasbih terbit pada pada pagi hari memberikan sinar hangatnya yang menjadi sumber energi bagi kehidupan dan terbenam di sore hari, udara dengan tekanannya yang pas,tumbuh-tumbuhan yang memberikan kesegaran bagi kita, gemericik air yang menjadi sumber kehidupan,tata surya yang tertata rapi,planet jupiter dengan gravitasinya yang amat tinggi seakan menarik bumi agar tidak tersedot ke arah matahari. Benda-benda langit yang akan menghantam bumi juga ditarik oleh jupiter.

Subhanallah, maha suci Allah, kita telah dijaga tanpa kita sadari. Dan diatas segalanya cinta Allah kepada makhluknya amat melimpah, Allah telah memberikan kita kehidupan, memberikan rezeki-Nya, memberikan anggota tubuh nan indah dengan fungsi yang baik,memberikan anugerah kesehatan padahal begitu banyaknya kita berbuat dosa,berapa kali kebohongan telah kita lakukan?bukankah kita sering zalim terhadap makhluk Allah bahkan kita mungkin enggan dengan syariat-Nya? Allah masih berbaik hati untuk membiarkan kita hidup, masih memberikan kita kesempatan untuk bersujud padahal mungkin sujud kita banyak yang tidak khusuknya bahkan kadang panggilan pekerjaan kita rasakan jauh lebih indah dibandingkan panggilan-Nya,pernahkah lisan kita beristighfar manakala menunda waktu untuk memenuhi panggilan-Nya? Namun kita masih diijinkan untuk menetap dibumi-Nya , menghirup udara-Nya secara gratis, padahal kalau Allah menginginkan dengan kuasa-Nya mudah saja bagi Allah untuk langsung melemparkan makhluknya yang tidak taat ke neraka jahannam namun Allah tidak melakukan hal yang demikian itu karena memang Dia maha rahman dan rahim.
Tentu saja ada ujian dan kerikil disepanjang hidup ini. Manakala kita diuji olehnya dengan mudahnya kita berkata seolah-olah Allah tidak adil dan tidak mendengar doa-doa kita. Padahal bukankah ujian dan cobaan adalah bagian dari kasih-Nya juga?Dapatkah kita rasakan kenikmatan jika kita tidak pernah merasakan kepedihan?Dapatkah kita menyadari bahwa kita adalah makhluk yang lemah tanpa melihat kuasa-Nya?Sesuatu yang kita lihat sebagai bencana sesungguhnya adalah peringatan dari-Nya bahwa ada yang lebih berkuasa diatas makhluk-Nya. Dan memang kita harus yakin bahwa ujian dan cobaan yang diberikan Allah adalah cara Allah untuk mengasihi dan mencintai kita,serta pasti ada hikmahnya.
Sehingga selama ini tanpa kita sadari kita tidak pernah kekurangan cinta dan kasih sayang bakan kita telah tenggelam dalam lautan cinta-Nya yang begitu murni. Lantas apakah kita harus membalasnya? Tentu cinta Allah tidak akan berkurang meskipun kita tidak membalas cinta-Nya.Namun Allah telah mengingatkan kita dalam firman-Nya: Katakanlah, jika Bapak-bapak,anak-anak,isteri-isteri,kaum kerabat,harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya,tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad dijalan-Nya maka tunggulah sampai allah mendatangkan keputusan-Nya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (QS.At-Taubah:24)
Allah telah memerintahkan kita agar menjadikan kecintaan kita kepada-Nya menjadi peringkat yang tertinggi. Artinya kita akan taat, tunduk dan patuh hanya kepada Allah, mencintai Bapak, Ibu,anak suami atau isteri, sesama insan , makhluk hidup juga harta hanya karena Allah bukan selainnya . Kita mencintai sesama dengan landasan iman dan amal saleh bukan karena harta pangkat ataupun jabatan yang dimilikinya. Kita akan rela untuk hidup dibawah syariat Allah tanpa melihat untung dan ruginya.Sehingga kasus-kasus kebingungan memilih pasangan yang beda agama tidak akan terjadi, definisi ponografi dan pornoaksi tidak akan menjadi sebuah polemik karena Allah telah menjelaskan batasan aurat secara jelas dan gamblang ,manifestasi cinta dengan cara yang mendekati zina seperti berpelukan, berpegangan tangan, bahkan( maaf) berciuman pada pasangan yang belum diikat oleh pernikahan juga tidak akan terjadi jika kita mencintai Allah, bagaimana mungkin kita mengungkapkan perasaan sayang kita kepada orang lain padahal dengan cara-cara yang dibenci oleh-Nya?Cinta karena-Nya akan membuat kita memperlakukan alam dengan sebaik-baiknya.Jika kita mencintai-Nya kita akan memperjuangkan tegaknya syariat-Nya dengan cara-cara yang disukai-Nya bukan dengan cara-cara kekerasan.Bukankah hanya hidup dibawah aturan-Nya manusia bahkan semesta alam akan merasa aman dan nyaman?
Begitu besar kasih yang telah Allah berikan tentu tidak layak bagi kita menyalahgunakannya apalagi mempersembahkan cinta yang palsu, dimulut kita mengatakan sangat mencintai Allah, membasahi lisan kita dengan berdzikir pada-Nya, namun bahasa tubuh,tingkah laku kita enggan berkorban untuk-Nya,mata kita gunakan untuk memandang hal-hal yang tidak semestinya,lisan yang suka menyayat-nyayat perasaan orang lain, waktu yang terbuang sia-sia.Bukankah mencintai juga harus diikuti dengan kerelaan untuk berkorban?Dalam QS.al-Ankabut Allah swt berfirman ”Apakah kalian mengira bahwa kalian akan memasuki surga, padahal belum datang ujian kepada kalian?” Ujian akan menempa kita apakah cinta kita murni ataukah palsu.
Marilah kita bersama meraih cinta-Nya,cinta yang diridhoi, cinta yang tidak akan pernah membuat kita merugi. Memang menjalaninya tidaklah mudah, perlu kekuatan hati dan ketegaran iman, namun jangan sampai kita menyesal dikemudian hari sebelum ajal menjemput karena ternyata selama didunia ada ”cinta halal” yang masih tidak terbalas.Wallahu”alam
natural_love
oleh: Hadad Alwi

Oh Tuhan, aku bukanlah ahli surga
Juga tak mampu menahan siksa neraka

Kabulkan taubat ampuni dosa-dosaku
Hanyalah Engkau pengampun dosa hamba-Mu

Dosa-dosaku tak terhitung bagai debu
Ya Illahi terimalah amal taubatku

Sisa umurku berkurang setiap hari
Dosa-dosaku makin bertambah Yaa Illahi

Hamba yang berdosa datang bersimpuh
Menyembah-Mu
Mengaku menyeru dan memohon ampunan-Mu
natural_love
oleh: Opick

detik waktu terus berjalan
berhias gelap dan terang
suka dan duka tangis dan tawa
tergores bagai lukisan

seribu mimpi berjuta sepi
hadir bagai teman sejati
di antara lelahnya jiwa
dalam resah dan air mata
kupersembahkan kepadaMu
yang terindah dalam hidup

meski ku rapuh dalam langkah
kadang tak setia kepadaMu
namun cinta dalam jiwa
hanyalah padaMu

maafkanlah bila hati
tak sempurna mencintaiMu
dalam dadaku harap hanya
diriMu yang bertahta

detik waktu terus berlalu
semua berakhir padaMu
natural_love
oleh: Opick

Sejauh-jauh mata memandang
Sedalam-dalam hati merasakan
Hanya setitik debu yang tertuang
Dalam syair pujian

Lepas hati memandang lautmu
Terheran diri pada langitmu
Berjuta kata tak cukup untuk
Melukis indahmu

Reff:
Melihat bintang alangkah jauhnya
Melihat biru alangkah dekatmu
Melihat hutan melihat gunung
Siapa menjagamu
Mendengar tangis dalam deritamu
Rasakan luka dihari-harimu
Pada siapa air mata ini ‘kan mengadu

Hoo..hoo..ha..ha..oh..ohh..ha..ha..
Haa..ha..ha..haa…ha..ha..

Bumi akan sepi
Bangga sementara
A… adakah tempat kembali
A… adakah selain Allah

Back to Reff:

Hoo..hoo..ha..ha..oh..ohh..ha..ha..
Haa..ha..ha..haa…ha..ha..